Sabtu, 25 Oktober 2014

SYARIFAH SAIDAH NURJIHAN

Posted by Unknown on 20.20 with No comments


BAB II
LANDASAN TEORI


A.    Sejarah Perkembangan Dense Wavelength Division Multiplexing( DWDM )
            Pada mulanya, teknologi WDM (Wavelength Division Multiplexing) yang merupakan cikal bakal lahirnya DWDM berkembang dari keterbatasan yang ada pada sistem serat optik, dimana pertumbuhan trafik pada sejumlah jaringan backbone mengalami percepatan yang tinggi sehingga kapasitas jaringan tersebut dengan cepatnya terisi. Hal ini menjadi dasar pemikiran untuk memanfaatkan jaringan yang ada dibandingkan membangun jaringan baru.
            Pada perkembangan WDM, beberapa sistem telah sukses mengakomodasikan sejumlah panjang gelombang dalam sehelai serat optik yang masing-masing berkapasitas 2,5 Gbps sampai 5 Gbps. Namun penggunaan WDM menimbulkan permasalahan baru, yaitu ke-nonlinieran serat optik dan efek dispersi yang kehadirannya semakin significant yang menyebabkan terbatasnya jumlah panjang gelombang 2 - 8 buah saja di kala itu.
            Pada perkembangan selanjutnya, jumlah panjang-gelombang yang dapat diakomodasikan oleh sehelai serat optik bertambah mencapai puluhan buah dan kapasitas untuk masing-masing panjang-gelombang pun meningkat pada kisaran 10 Gbps, kemampuan ini merujuk pada apa yang disebut DWDM.
            Namun pada dasarnya, DWDM merupakan pemecahan dari masalah-masalah yang ditemukan pada WDM, dimana dari segi infrastruktur sendiri praktis hanya terjadi penambahan peralatan pemancar dan penerima saja untuk masing-masing panjang gelombang yang dipergunakan. Inti perbaikan yang dimiliki oleh teknologi DWDM terletak pada jenis filter, serat optik dan penguat amplifier. Jenis filter yang umum dipergunakan di dalam sistem DWDM ini antara lain Dichroic Interference Filters (DIF), Fiber Bragg Gratings (FBG), Array Waveguide Filters (AWG) and Hybrid Fused Cascaded Fiber (FCF) dengan Mach-Zehnder (M-Z) interferometers.

            Komponen berikutnya adalah serat optik dengan dispersi yang rendah, dimana karakteristik demikian sangat diperlukan mengingat dispersi secara langsung berkaitan dengan kapasitas transmisi suatu sistem. Jenis serat optik yang banyak dipakai untuk aplikasi DWDM diantaranya LEAF® yang merupakan produk dari Corning®, yang oleh para carriers dipercaya sebagai serat berkualitas terbaik. Sementara penguat optik yang banyak dipergunakan untuk aplikasi demikian adalah EDFA dengan karakteristik flat untuk semua panjang-gelombang di dalam spektrum DWDM. Teknik lain yang yang telah sukses diujicobakan adalah dengan memperpendek jarak antar kanal, yang biasanya berkisar 1 nm menjadi 0,3 nm. Hal ini terutama berguna pada sistem yang spektrum penguatan dari penguat optiknya kurang merata.

B.  Pengertian Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM)
            Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) merupakan suatu tehnik transmisi yang memanfaatkan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda sebagai kanal-kanal informasi,sehingga setelah dilakukan proses multiplexing seluruh panjang gelombang tersebut dapat di transmisikan melalui sebuah serat optik.pada dasarnya, DWDM merupakan pemechan dari masalah-masalah yang di temukan pada Wavelenght Division Multiplexing (WDM).

            Dense Wavelenght Division Multiplexing (DWDM) adalah teknologi yang memanfaatkan sistem SDH (Synchoronous Digital Hierarchy) yang sudah  ada (solusi terintergrasi) dengan memultiplekskan sumber-sumber sinyal yang ada. Menurut definisi, teknologi DWDM dinyatakan sebagai teknologi jaringan transport yang memiliki kemampuan untuk membawa sejumlah panjang gelombang (4,8,16,32,dan seterusnya) dalam satu fiber tunggal.

     Artinya , apabila dalam satu fiber itu dipakai empat gelombang, maka percepatan transmisinya menjadi 4 x 10 Gbs (kecepatan awal dengan menggunakan teknologi SDH).
            Kemunculan teknologi DWDM tersebut dengan segera menjadi daya tarik sendiri bagi perusahaan-perusahaan penyedia jasa telekomunikasi (carriers). Hal ini dikarenakan teknologi DWDM merupakan carriers untuk memiliki sebuah jaringan tanpa perlu susah payah membangun sendiri infrastruktur jaringannya. Mereka cukup menyewa beberapa panjang gelombang sesuai kubutuhan dengan daerah tujuan yang sama atau berbeda.  metoda penyewaan panjang gelombang ini pula yang saat ini banyak dilakukan oleh carriers, khususnya yang tergolong baru,dikawasan Eropa,dimana traffic telepon dan internet di kota-kota besar dikawasan tersebut menunjukan pertumbuhan yang sangat tinggi.
            Pada perkembangan selanjutnya, teknologi DWDM ini tidak hanya dipergunakan untuk jaringan utama (backbone), melainkan juga pada jaringan akses di kota-kota metropolitan diseluruh dunia. Alasan utama yang mendorong penggunaan DWDM pada jaringan akses ini tentu saja kemampuan sehelai serat optik yang sudah mampu mengakomodasikan puluhan bahkan ratusan panjang gelombang.

C.       Konfigurasi Dense Wavelenght Division Multiplexing ( DWDM ) Alcatel Lucent (ALLU)

Gambar 2.1 konfigurasi DWDM ALLU

D.      PemilihanTekhnologi Dense Wavelenght Division Multiplexing ( DWDM )
Secara umum ada beberapa faktor yang menjadi landasan pemilihan teknologi DWDM ini,antara lain yaitu :
1)   Munurunkan biaya instalasi awal, karena implementasi DWDM berarti kemungkinan besar tidak perlu menggelar fiber baru, cukup menggunakan fiber eksisting ( sesuai ITU-T G.652 atau UTU-T G.655 ) dan mengintegrasikan perangkat SDH eksisting dengan perangkat DWDM.
2)   Dapat dipakai untuk memenuhi demand yang berkembang dimana teknologi DWDM mampu untuk melakukan penambahan kapasitas dengan orde n x 10 Gbps atau n x 100 Gbps (10 x 10 G ).
3)   Dapat mengakomodasikan layanan baru (memungkinkan proses rekonfigurasi dan transparency ). Hal ini dimungkinkan karena sifat dari operasi.

Secara umum ada beberapa alternatif cara yang dapat ditempuh untuk memenuhi kebutuhan kapasitas pada tekhnologi DWDM akibat perkembangan trafik yang sangat cepat,antara lain :
a.       Menambah modul
Kapasitas DWDM bisa ditambah selama di dalam slot DWDM tersebut masih bisa  ditambah modul TRBD
b.      Memperbesar kecepatan transmisi
Penggantian perangkat / modul eksisting dengan sistem / kapasitas yang baru (sistem SDH kapasitas STM-64 ) dengan kapasitas yang lebih besar. Cara ini menemui hambatan dengan keterbatasan kapasitas terbesar sistem SDH (STM-64).
c.       Mengimplementasikan WDM
Cara lain yang jauh lebih ekonomis dan berorientasi ke masa depan adalah dengan menerapkan sistem WDM. Sistem WDM ini memanfaatkan sistem SDH yang sudah ada (solusi terintegrasi) dengan memultiplekskan sumber-sumber sinyal yang ada, pada domain c, pada komponen pasif WDM.
d.      Kapasitas besar
Satu modul BMDX mempunyai 12 port untuk CMDX, satu modul CMDX mempunyai 8 port untuk TRBD. Hingga total DWDM yaitu 12 x 8 = 96,hasil ini dikali dengan kapasitas TRBD ( 96 x 10 = 960).
          Dengan memperhatikan faktor ekonomis, fleksibilitis dan kebutuhan pemenuhan kapasitas jaringan jangka panjang, maka solusi untuk menginplementasikan DWDM merupakan yang paling cocok, terutama jika dorongan pertumbuhan trafik dan proyeksi kebutuhan trafik masa depan terbukti sangat besar.
E.       Kelebihan Teknologi Dense Wavelenght Division Multiplexing ( DWDM )
Secara umum kelebihan teknologi DWDM adalah sebagai berikut:
1.    Tepat untuk plementasikan pada jaringan telekomunikasi jarak jauh (long houl) baik untuk sistem point-to-point maupun ring topology.
2.    Lebih fleksibel untuk mengantisipasi pertumbuhan trafik yang tidak terprediksi.
3.    Transparan terhadap barbagai bit rate dan protokol jaringan. Kanal informasi masing-masing panjang gelombang dapat digunakan untuk melawatkan trafik dengan format data dan pesat bit yang berbeda.
4.    Tepat untuk diterapkan pada daerah dengan perkembangan kebutuhan bandwidth sangat cepat.
5.    Fleksibel dalam memenuhi kebutuhan user / pelanggan.

F.     Komponen penting dalam Dense Wavelenght Division Multiplexing
     ( DWDM ) Alcatel Lucent (ALLU)
                      Teknologi DWDM, terdapat beberapa komponen utama yang harus ada untuk mengoperasikan DWDM dan agar sesuai dengan standar ITU sehungga teknologi ini dapat di aplikasikan pada beberpa jaringan optic. Komponen-komponen adalah sebagai berikut :
a.         LOFA ( Local Output Fiber Aplifire)
                   Berfungsi sebagai ujung dari perangkat DWDM dari kota A menuju ke kota B dengan membawa semua traffik.
b.        OSCU (Optical Supervision Channel Unit )
       Berfungsi sebagai untuk memonitoring NMS dan LCT ( Local Craft Terminal).
c.         BMDX ( Band Mux Demux )
                   Berfungsi sebagai untuk memecah band-band menjadi channel-channel atau CMDX.
d.        CMDX (Channel Mux Demux )
       Berfungsi sebagai membagi masing-masing frequensi ke TRBD.
e.         TRBD ( Transponder )
       Berfungsi sebagai output yang menuju ke user.

0 komentar:

Posting Komentar