BAB II
LANDASAN
TEORI
A.
Sejarah Perkembangan Dense
Wavelength Division Multiplexing( DWDM )
Pada mulanya,
teknologi WDM (Wavelength Division Multiplexing) yang merupakan cikal
bakal lahirnya DWDM berkembang dari keterbatasan yang ada pada sistem serat
optik, dimana pertumbuhan trafik pada sejumlah jaringan backbone mengalami
percepatan yang tinggi sehingga kapasitas jaringan tersebut dengan cepatnya
terisi. Hal ini menjadi dasar pemikiran untuk memanfaatkan jaringan yang ada
dibandingkan membangun jaringan baru.
Pada perkembangan WDM, beberapa
sistem telah sukses mengakomodasikan sejumlah panjang gelombang dalam sehelai
serat optik yang masing-masing berkapasitas 2,5 Gbps sampai 5 Gbps. Namun
penggunaan WDM menimbulkan permasalahan baru, yaitu ke-nonlinieran serat optik
dan efek dispersi yang kehadirannya semakin significant yang menyebabkan
terbatasnya jumlah panjang gelombang 2 - 8 buah saja di kala itu.
Pada perkembangan selanjutnya,
jumlah panjang-gelombang yang dapat diakomodasikan oleh sehelai serat optik
bertambah mencapai puluhan buah dan kapasitas untuk masing-masing
panjang-gelombang pun meningkat pada kisaran 10 Gbps, kemampuan ini merujuk
pada apa yang disebut DWDM.
Namun pada dasarnya, DWDM merupakan
pemecahan dari masalah-masalah yang ditemukan pada WDM, dimana dari segi
infrastruktur sendiri praktis hanya terjadi penambahan peralatan pemancar dan
penerima saja untuk masing-masing panjang gelombang
yang dipergunakan. Inti perbaikan yang dimiliki oleh teknologi DWDM terletak
pada jenis filter, serat optik dan penguat amplifier. Jenis filter yang umum
dipergunakan di dalam sistem DWDM ini antara lain Dichroic Interference
Filters (DIF), Fiber Bragg Gratings (FBG), Array Waveguide
Filters (AWG) and Hybrid Fused Cascaded Fiber (FCF) dengan
Mach-Zehnder (M-Z) interferometers.
Komponen
berikutnya adalah serat optik dengan dispersi yang rendah, dimana karakteristik
demikian sangat diperlukan mengingat dispersi secara langsung berkaitan dengan
kapasitas transmisi suatu sistem. Jenis serat optik yang banyak dipakai untuk
aplikasi DWDM diantaranya LEAF® yang merupakan produk dari Corning®, yang oleh
para carriers dipercaya sebagai serat berkualitas terbaik. Sementara
penguat optik yang banyak dipergunakan untuk aplikasi demikian adalah EDFA
dengan karakteristik flat untuk semua panjang-gelombang di dalam
spektrum DWDM. Teknik lain yang yang telah sukses diujicobakan adalah dengan
memperpendek jarak antar kanal, yang biasanya berkisar 1 nm menjadi 0,3 nm. Hal
ini terutama berguna pada sistem yang spektrum penguatan dari penguat optiknya
kurang merata.
B. Pengertian
Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM)
Dense
Wavelength Division Multiplexing (DWDM) merupakan suatu tehnik transmisi yang
memanfaatkan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda sebagai
kanal-kanal informasi,sehingga setelah dilakukan proses multiplexing
seluruh panjang gelombang tersebut dapat di transmisikan melalui sebuah serat
optik.pada dasarnya, DWDM merupakan pemechan dari masalah-masalah yang di
temukan pada Wavelenght Division Multiplexing (WDM).
Dense Wavelenght Division Multiplexing (DWDM) adalah teknologi yang memanfaatkan sistem SDH (Synchoronous Digital Hierarchy) yang sudah ada (solusi terintergrasi) dengan memultiplekskan sumber-sumber sinyal yang ada. Menurut definisi, teknologi DWDM dinyatakan sebagai teknologi jaringan transport yang memiliki kemampuan untuk membawa sejumlah panjang gelombang (4,8,16,32,dan seterusnya) dalam satu fiber tunggal.
Artinya , apabila dalam satu fiber itu
dipakai empat gelombang, maka percepatan transmisinya menjadi 4 x 10 Gbs
(kecepatan awal dengan menggunakan teknologi SDH).
Kemunculan teknologi DWDM tersebut
dengan segera menjadi daya tarik sendiri bagi perusahaan-perusahaan penyedia
jasa telekomunikasi (carriers). Hal ini dikarenakan teknologi DWDM
merupakan carriers untuk memiliki sebuah jaringan tanpa perlu susah payah
membangun sendiri infrastruktur jaringannya. Mereka cukup menyewa beberapa
panjang gelombang sesuai kubutuhan dengan daerah tujuan yang sama atau
berbeda. metoda penyewaan panjang
gelombang ini pula yang saat ini banyak dilakukan oleh carriers, khususnya yang
tergolong baru,dikawasan Eropa,dimana traffic telepon dan internet di kota-kota
besar dikawasan tersebut menunjukan pertumbuhan yang sangat tinggi.
Pada perkembangan selanjutnya,
teknologi DWDM ini tidak hanya dipergunakan untuk jaringan utama (backbone),
melainkan juga pada jaringan akses di kota-kota metropolitan diseluruh dunia.
Alasan utama yang mendorong penggunaan DWDM pada jaringan akses ini tentu saja
kemampuan sehelai serat optik yang sudah mampu mengakomodasikan puluhan bahkan
ratusan panjang gelombang.
C.
Konfigurasi Dense Wavelenght Division
Multiplexing ( DWDM ) Alcatel Lucent (ALLU)
Gambar 2.1 konfigurasi DWDM ALLU
D.
PemilihanTekhnologi Dense Wavelenght
Division Multiplexing ( DWDM )
Secara umum ada beberapa faktor yang menjadi
landasan pemilihan teknologi DWDM ini,antara lain yaitu :
1)
Munurunkan biaya instalasi awal, karena
implementasi DWDM berarti kemungkinan besar tidak perlu menggelar fiber baru,
cukup menggunakan fiber eksisting ( sesuai ITU-T G.652 atau UTU-T G.655 ) dan
mengintegrasikan perangkat SDH eksisting dengan perangkat DWDM.
2)
Dapat dipakai untuk memenuhi demand yang
berkembang dimana teknologi DWDM mampu untuk melakukan penambahan kapasitas
dengan orde n x 10 Gbps atau n x 100 Gbps (10 x 10 G ).
3)
Dapat mengakomodasikan layanan baru
(memungkinkan proses rekonfigurasi dan transparency ). Hal ini
dimungkinkan karena sifat dari operasi.
Secara umum ada beberapa alternatif cara yang
dapat ditempuh untuk memenuhi kebutuhan kapasitas pada tekhnologi DWDM akibat
perkembangan trafik yang sangat cepat,antara lain :
a.
Menambah modul
Kapasitas DWDM bisa ditambah selama di dalam
slot DWDM tersebut masih bisa ditambah
modul TRBD
b.
Memperbesar kecepatan transmisi
Penggantian perangkat / modul eksisting dengan
sistem / kapasitas yang baru (sistem SDH kapasitas STM-64 ) dengan kapasitas
yang lebih besar. Cara ini menemui hambatan dengan keterbatasan kapasitas
terbesar sistem SDH (STM-64).
c.
Mengimplementasikan WDM
Cara
lain yang jauh lebih ekonomis dan berorientasi ke masa depan adalah dengan
menerapkan sistem WDM. Sistem WDM ini memanfaatkan sistem SDH yang sudah ada (solusi
terintegrasi) dengan memultiplekskan sumber-sumber sinyal yang ada, pada
domain c, pada
komponen pasif WDM.
d.
Kapasitas besar
Satu modul BMDX mempunyai 12 port untuk CMDX,
satu modul CMDX mempunyai 8 port untuk TRBD. Hingga total DWDM yaitu 12 x 8 =
96,hasil ini dikali dengan kapasitas TRBD ( 96 x 10 = 960).
Dengan
memperhatikan faktor ekonomis, fleksibilitis dan kebutuhan pemenuhan kapasitas
jaringan jangka panjang, maka solusi untuk menginplementasikan DWDM merupakan
yang paling cocok, terutama jika dorongan pertumbuhan trafik dan proyeksi
kebutuhan trafik masa depan terbukti sangat besar.
E.
Kelebihan Teknologi Dense Wavelenght
Division Multiplexing ( DWDM )
Secara umum kelebihan teknologi DWDM adalah
sebagai berikut:
1. Tepat untuk
plementasikan pada jaringan telekomunikasi jarak jauh (long houl) baik untuk
sistem point-to-point maupun ring topology.
2. Lebih
fleksibel untuk mengantisipasi pertumbuhan trafik yang tidak terprediksi.
3. Transparan
terhadap barbagai bit rate dan protokol jaringan. Kanal informasi masing-masing
panjang gelombang dapat digunakan untuk melawatkan trafik dengan format data
dan pesat bit yang berbeda.
4. Tepat
untuk diterapkan pada daerah dengan perkembangan kebutuhan bandwidth sangat
cepat.
5. Fleksibel
dalam memenuhi kebutuhan user / pelanggan.
F. Komponen
penting dalam Dense Wavelenght Division Multiplexing
(
DWDM ) Alcatel Lucent (ALLU)
Teknologi DWDM, terdapat
beberapa komponen utama yang harus ada untuk mengoperasikan DWDM dan agar
sesuai dengan standar ITU sehungga teknologi ini dapat di aplikasikan pada
beberpa jaringan optic. Komponen-komponen adalah sebagai berikut :
a.
LOFA ( Local Output Fiber Aplifire)
Berfungsi sebagai ujung dari
perangkat DWDM dari kota A menuju ke kota B dengan membawa semua traffik.
b.
OSCU (Optical Supervision Channel Unit )
Berfungsi sebagai untuk memonitoring NMS dan
LCT ( Local Craft Terminal).
c.
BMDX ( Band Mux Demux )
Berfungsi sebagai untuk
memecah band-band menjadi channel-channel atau CMDX.
d.
CMDX (Channel Mux Demux )
Berfungsi sebagai membagi masing-masing
frequensi ke TRBD.
e.
TRBD ( Transponder )
Berfungsi sebagai output yang menuju ke
user.


0 komentar:
Posting Komentar